Hak Asasi Ndasmu

Disahkannya pernikahan sesama jenis di Amerika oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat (26/06/2015) semakin menguatkan keinginan orang – orang yang selama ini berkiblat kepada Negeri Adidaya tersebut untuk memperjuangankan hal yang sama di Negaranya, termasuk di Indonesia. Meskipun memang sudah menjadi realitas di masyarakat bahwa ada sebagain orang yang memilih menjalani hidup dengan orientasi seksual yang berbeda dari kebanyakan masyarakat. Namun sekarang perjuangan mereka ingin mendapat pengakuan sipil sehingga apa yang mereka lakukan mendapat legalitas hukum dan bukan sesuatu yang menyimpang atau dianggap penyakit. Dengan berada dibawah payung Hak Asasi Manusia, mereka berteriak lantang dan terang – terangan mengakui bahwa mereka adalah seorang lesbian atau gay. Hak Asasi Manusia seolah menjadi payung pembenaran terhadap penyimpangan tersebut dan menjadi temeng ketika mereka dihujat.

Teriakan ini hak kami untuk memilih hidup seperti ini, “lha wong ini hidup – hidup kami, ya hak kami untuk memilih hidup seperti apa”.” Woo.. Hak asasi Ndasmu”.  Pandangan sekuler tentang hak asasi yang kemudian menceraikan agama dan kehidupan adalah menjadi pangkal dari semuanya. Hak asasi tidak ada lagi hubungannya dengan agama. Bahkan melanggar agama juga tidak jadi masalah, lha iu juga pilihan hidup. Sebab dari negera asalnya Hak asasi manusia memang orang sudah hidup terpisah dari agama. Sayanganya negera pengimpor ide – ide Hak Asasi manusia sudah tidak lagi melihat itu dan menerimanya apa adanya.

Benarkah kita mempunyai Hak ? Hak asasi? Hak atas hidup kita sendiri?. Dunia barat tak bertuhan tentu tidak mengenal hubungan yang intens antara Sang Pencipta dengan yang dicipta. Mereka tak berfikir mengapa mereka ada di dunia dan siapa yang menciptakannya. Pikiran mereka semua hal itu terjadi begitu saja sesuai hukum alam atau mereka berfikir tuhan telah pensiun setelah menciptakan manusia dan alam.

Namun jika yang berteriak HAK ASASI MANUSIA itu seorang muslim, apakah dia berteriak dengan nada dan pemahaman yang sama dengan orang – orang barat yang tidak mengenal Tuhan?

Seorang muslim pasti pernah tahu kalimat yang dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat pernyataan tersebut telah menjadi ikrar bahwa sejatinya kita akan kembali kepada Allah SWT, sehingga sebenarnya yang ada pada diri kita bukanlah hak milik kita, sebab ia akan dikembalikan. Maka, masihkah kita berkata Hak Asasi Manusia diatas pemikiran kebebasan sepenuhnya untuk mengatur hidup kita ?. Padahal yang sesungguhnya adalah kita tidak mempunyai kedaulatan atas hidup kita. Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi guide hidup kita, Nabi Muhammad sebagai role model, sehingga jika tidak mengikuti guide dan mencontoh role model kita akan menjadi barang gagal ketika dikembalikan. Sejatinya kita hanya diberi hak pinjam atas semuanya yang nanti akan dikembalikan, bukan hak milik yang selamanya menjadi milik kita.

Oleh sebab itu, teriakan – teriakan Hak Asasi itu perlu kita teriakan dengan nada dan semangat berbeda sehingga kita tidak terjebak dalam alam pikiran barat yang mendefinisikan hak asasi sebagai Hak milik, bukan hak pinjam. Sebab dari pemikiran dasar inilah nantinya akan berkembang pada pola tingkah laku setiap individu.

Hak Asasi kita adalah Hak pinjam yang telah diatur oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga ketika kita kembali masih sama seperti pertama kali kita pinjam.

Mengumpulkan Catatan Berserakan

“seseorang tidak akan menulis sebuah buku kecuali karena salah satu diantara tujuh alasan: menulis sesuatu yang belum pernah ditulis orang sebelumnya dan dia mempeloporinya, menyempurnakan kekurangan, menjelaskan sesuatu yang sulit dipahami, meringkas uraian yang sangat panjang tanpa mengurangi substansinya, memilah berbagai hal yang belum dipilah, mengoreksi dan menjelaskan kekeliruan yang dilakukan seseorang penulis buku, atau menghimpun berbagai hal yang masih berserakan”

(Syamsuddin Al-Babili dalam buku “Menyemai Kreator Peradaban” – Mohammad Nuh)

sadumuk bathuk sanyari bumi

walau hanya se luas ujung jari, bumi/tanah milik (negeri)kita,

kira – kira itulah arti judul di atas, saya baru mendapat kata – kata itu dari acara pencerahan Bang-Bang Wetan (BBW) sekitar ramadhan lalu, meskipun saya tidak datang, paling tidak masih bisa mengikuti lewat Youtube yang kawan-kawan Maiyah upload. Ungkapan lama yang sudah jarang sekali di dengar, padahal artinya sungguh luar biasa dan mungkin tepat untuk dibahas lagi saat ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 60 kemarin.

———————————————————————————————————————————

Sebernarnya kalau kita preteli  kata per kata ungkapan di atas, maka akan kita temuakan sebuah filosofi sarat makna dari mbah – mbah kita dahulu. Kata “dumuk” dalam bahasa indonesia berarti menyentuh dengan jari, biasanya jari telunjuk dan sangat kecil bagiannya (mungkin hanya menempel). Adapun “bathuk” dalam terjemah bahasa Indonesia adalah jidat. Bagi adab orang-orang Jawa, kepala adalah bagian yang paling terhormat dari bagian tubuh manusia dan juga merupakan lambang kehormatan. Sehingga bagi orang – orang Jawa, tidak sebarang orang bisa menyentuh kepala orang lain (tentu saja kecuali “tukang potong rambut”, itupun mereka biasanya pakai izin “nuwun sewu” dulu). Bahkan duduk di atas bantal yang tempat kepala itu dikatakan “ora ilok”. Sebab lumrahnya Bantal adalah alas kepala. Menduduki bantal sama dianggap sama dengan menduduki kepala.

Jadi silahkan bayangkan saja kalau “bathuk” kita ditonjok pakai “ujung jari telunjuk”, padahal itu adalah kehormatan bagi kita, mungkin rasa marah dan sakit sakit. Di belahan dunia yang lain mungkin memegang kepala teman adalah hal biasa. Jadi pada intinya adalah “sadumuk bathuk” berarti lambang kehormatan yang kalau diinjak-injak atau dilanggar oleh orang, kita berhak dan pantas ngamuk dan marah.

“Sak nyari” berarti sejengkal. “Bumi” sudah jelas, artinya tanah. Jadi “sanyari bumi” maksudnya sejengkal tanah. Biarpun hanya sejengkal, kalau itu milik kita dan mau direbut orang lain, ya harus dibela mati-matian. Banyak contoh pertikaian hidup dan mati dalam hal “sanyari bumi” ini.

Kalau kita perhatikan, dua ungkapan di atas, maka kita bisa tafsirkan dengan beribu tafsir. Namun pada intinya adalah tentang Jati diri kehormatan kita yang wajib kita jaga marwah-nya ketika hal itu ditabrak orang, sehingga Kita bangga dengan Identitas Diri kita sebab Harga diri Jelas

 Dimana kau letak kan kehormatan mu?

Perenungan dari ungkapan Jawa kuno di atas adalah Dimana kita meletakkan harga diri kita ?. Sehingga jelas dimana marwah kita yang layak kita marah jika itu diinjak-injak oleh orang lain. Atau kita sudah lupa dimana meletakkan kehormatan itu, sehingga kita enjoy aja dengan semua perlakuan orang lain kepada kita. Atau paling fatal adalah kita belum mendefinisikan atau sadar akan marwah, harkat dan martabat kita sendiri. Sehingga kita tertawa aja dengan semua perlakuan orang meskipun sebenarnya sudah menginjak martabat kita. Namun karena kita tidak tau dimana kehormatan itu kita letakan sehingga kita tertawa dan dengan senang hati orang lain menginjak – injak itu, paling parah mempersilahkan orang untuk menabrak pagar marwah kita.

Orang yang menaruh kehormatannya pada harta, akan menganggap jika harta banyak ia akan dihormati dan kemiskinan adalah lubang kehinaan. Jika kedudukan atau pangkat adalah lambang kehormata, maka orang akan mati – matian mendapatkan kedudukan yang tinggi agar dihormati. Bagi wanita, kesucian adalah kehormatannya, dan begitulah seterusnya hingga orang itu akan mengejar apa yang menjadi persepsinya tentang kehormatan. Sehingga terserah dimana anda akan meletakkan harga diri itu sehingga anda akan menemukan kesejatian diri anda.

Maslow pernah mengeluarkan sebuah teori tentang kebutuhan dalam sebuah Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Hierarki tersebut secara berturut-turut adalah  Fisiologis, Akan Rasa Aman,  Akan Rasa Memiliki Dan Kasih Sayang, Akan Penghargaan dan terakhir Akan Aktualisasi Diri. Menurut Maslow, kebutuhan akan penghormatan adalah peringkat keempat. Mungkin menurut maslow, orang yang baru bisa memenuhi kebutuhan fisiologi tidak butuh akan penghargaan. Sebab teori maslow adalah piramida yang bertingkat. Apakah menurut maslow orang miskin tidak mempunyai kehormatan sebab pemenuhan kebutuhan fisiologinya saja masih belum genap terpenuhi.

Pernah anda sedikit berfikir, dimana anda meletakkan kehormatan anda ?. Sebab jika anda belum menentukan dimana letak kehormatan itu sendiri, maka anda akan terombang – ambing menurut masyarakat pada umumnya. Bukankan Kehormataan itu adalah kesepakatan masyarakat umum?. Misal saja masalah kepada seperti ungkapan di atas, bukan kah ada kelompok masyarakat atau daerah di luar jawa yang menganggap urusan kepala biasa saja tidak seperti orang Jawa.

Oleh sebab itu, maka perlu bagi kita mendefinisikan Kehormataan dan itu menjadi sebuah prinsip yang kita pegang sekuat tenaga sepanjang umur kita. Sebab jika definisi kehormatan itu tidak kita letakkan sebagai prinsip, itu akan sangat mudah berubah, terombang-ambing zaman. Sehingga kita akan jelas dimana marah dan sedih karena marwah kita terinjak-injak. Dan sudah pasti marwah itu harus menjadi bagian dari Tujuan Hidup. Sehingga kita tidak akan melenceng ditengah perjalan sebab hal itu akan merusak kehormatan.

Terakhir, penting bagi kita mendefiniskan tentang kehormatan sebelum berkata perjuangan. Sehingga akan jelas apa yang kita perjuangkan.

waullahu ‘alam

Lubang Cahaya

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Terjemah Qs. Annur : 35)

Jika Cahaya Allah itu adalah tempat kembali untuk bersimpuh mengabdikan diri ke haribaan-Nya, maka Allah turunkan petunjuk itu kepada setiap hati hamba yang Dia kehendaki untuk menemukan kembali cahaya-Nya, Alzujajah, pelita hati dari Illahi. Jadi lewat mana nanti pelita itu menyala dan menerangi hamba hingga sang hamba menemukan cahaya Allah adalah hak preogratif Allah.

Sebab Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki. Bisa jadi bukan lewat Da’I atau Pak Kyai. Bukan juga ustadz atau toh masyarakat. Bisa jadi pelita itu muncul dari anak kecil, gelandangan, anak muda, orang muda atau PeeSKa. Kehendak Allah dari mana Pelita itu akan menerangi hati hambanya. Semuanya tinggal kembali kepada hamba, bahkah hanya merenungkan pergantian siang dan malam saja dapat menemukan cahaya Allah. “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihata”(Qs. Annur : 44).

Semakin banyak interaksi saya dengan berbagai kelompok pengajian atau pencerahan dalam rangka menemukan kembali pelita hati. Saya jadi semakin kagum bahwa memang Allah membimbing orang-orang yang Dia kehendaki untuk kembali menemukan pelita hati, entah dari mana saja sumber pelita itu muncul adalah hak preogatif Allah. Dan tidak bisa padam atau redup cahaya itu. Sebab Ia adalah Cahaya di atas Cahaya.

Saya akan sedikit menceritakan hal yang pernah saya alami untuk semakin menghayati pemaknaan dari ayat diatas. Pengalaman ini adalah pengalaman nyata tanpa rekayasa meskipun saya tidak akan menyebut nama. Jika menyebut kelompok, itu hanya dalam rangka memudahkan untuk memahami saja.

Mungkin anda sudah banyak mengetahui bahwa Jamaah (organisasi) islam yang berada di Indonesia ini sangat banyak, baik yang lurus maupun rada menyimpang. Dan setiap mereka mempunyai cara pengajian yang berbeda-beda dan mungkin kita lebih sering mendengarnya saling bersebrangan. Jamaah A menganggap Jamaah B adalah ahli bid’ah, dan sebaliknya atau malah Jamaah B menganggap Jamaah A adalah teman dan selain mereka adalah Jamaah ahli bid’ah. Seperti itu hingga akhirnya orang bingung melihanya.

Anda mungkin sudah sangat familiar dengan nama – nama ini, Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Salafi (wahabi-kata yang lain), Jamaah Tabligh (JT), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Nahdhotul ‘Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Sholawat Nabi dengan Syehker Mania-nya, Jamaah Maiyah Nusantara dan gerakan Tarbiyah. Saya pernah berinteraksi dengan individu (jamaah pengikut) di dalamnya, bukan organisasinya secara langsung. Dan banyak pelajaran yang kita dapat bahwa Cahaya Allah datang dari mana pun dan tidak akan redup.

Pelita bisa jadi Allah nyalakan lewat MTA, untuk membimbing orang-orang yang Dia kehendaki untuk kembali pada cahaya. Saya pernah bermajelis dalam pengajian mereka dan kadang saya mengikuti pengajiannya lewat Radio. Saya sungguh tersentuh, ada bapak-bapak paruh baya yang menjadi anggota mejelis itu yang membaca Al-Qur’an saja, itu masih lebih lancar adik saya. Namun saya saya sangat tersentuh, perjuangan bapak itu untuk kembali semangat beragama diusia yang sudah cukup mendekati senja masih ada. Mengkaji kitab pedoman yang Allah turunkan. Pelita itu telah menyala dan menerangi hatinya, membimbing menuju cahaya. Maka jangan pernah anda tutup-tutupi atau padamkan cahaya  itu dengan mengatakan mereka aliran sesat, mereka ahli bi’dah dan sebagaimana. Namun cahaya Allah adalah cahaya diatas cahaya, meskipun ada yang mengatakan seperti di atas, cobalah datang ke kantor pusat yang di Solo, pengajian mereka selalu ramai dan sesak para jamaah.

Dan pelita pembimbing itu bisa jadi Allah tiupkan lewat salafi (wahabi-kata kelompok lain). Gerakan salafi yang mencoba menggigit sunnah nabi di akhir zaman. Saya pernah bermajelis di pengajian mereka, mendengarkan tausiyahnya. Dan saya mempunyai teman yang menjadi anggota kelompok itu, sungguh perubahan luar biasa yang terjadi padanya. Kecintaanya pada ilmu agama melonjak drastis, berangkat ke masjid awal waktu dan sebagainya. Gambaran yang jarang dilihat pada umumnya anak sekarang. Memang ada kesalahan pada mereka, namun jangan coba kita padamkan pelita itu. Tak perlu kita katakan mereka orang ekstrim, mereka kafir dan sebagainya. Jika ada kesalahan mari kita ingatkan.

Bisa juga Allah bimbing seorang hamba menunju cahaya-Nya melalui pelita yang ada di Jamaah Tabligh (JT), seruan mereka mengetuk pintu rumah, bersilaturrahmi dan mengingatkan agar menjaga sholat, senantiasa berdzikir mengingat Allah dan lain sebagainya. Bisa jadi pelita itu dari mereka. Jangan kita padamkan dengan menghukumi mereka ahli bid’ah, jamaah sesat dan ejekan lainnya. Toh kita belum tentu lebih baik dari mereka. Dan banyak perubahan yang dialami teman saya yang ikut bergabung dengan mereka. Kecintaannya kepada Ibadah semakin menggelora.

Saya pernah hadir di majelis pencerahan Jamaah Maiyah Nusantara di Surabaya yang diberikan nama Bang-Bang Wetan. Itulah kali pertama saya datang setelah sekalian kali hanya mengikuti lewat video di youtube dan artikel di website-nya. Peserta yang hadir bukan pada umumnya orang – orang yang akan menghadiri pengajian. Peserta yang hadir disana sangat beragam, mulai dari celana sobek-sobek, kaos oblong sampai yang pakai sarung dan kopyah. Bermajelis dari jam 8 malam hingga jam 3 dinihari. Allah menyalakan pelita bagi orang – orang “marginal” yang terpinggirkan dari jamaah lain. Semangat mereka menemukan ke-fitroh-an merupakan karunia yang Allah turunkan kepada seorang yang dikehendaki menuju cahayaNya.

Saya ingin mengulang ayat diatas diakhir paragraph ini, semoga kita semakin arif dan bijaksana menanggapi banyaknya Jamaah islam yang ada. Bahwa ia adalah pelita yang Allah nyalakan di tengah-tengah umat untuk membimbing menemukan “kembali” pada cahaya-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita padamkan atau tutupi pelita itu dengan membagikan stempel Kafir, Cap Ahli Bid’ah dan sebagainya. Bisa jadi seseorang tidak cocok dengan kelompok anda, dan cocok dengan kelompok lain. Itu semua adalah kehendak Allah yang membimbing siapapun yang dikehendaki menuju cahaya-Nya.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Terjemah Qs. Annur : 35)

Catatan Akhir Ramadhan (3)

Nyekar

Salah satu bagian dari tradisi orang – orang di sekitar saya ketika menjelang ramadhan ataupun idul fitri adalah nyekar. Nyekar berasal dari kata sekar (bahasa jawa) atau dalam bahasa Indonesia berarti Bunga. Mendapat imbuhan Ny- yang kemudian berarti melakukan. Sehingga tradisi Nyekar adalah tradisi menabur bunga di makam orang tua atau sanak saudara. Umumnya yang paling ramai adalah waktu menjelang ramadhan atau menjelang idul fitri. Meskipun sebenarnya para ulama menganjurkan untuk melakukan setiap hari kamis sore atau malam jum’at. Namun tidak hanya menabur bunga, membersihkan makan dan menyiram air wangi, orang – orang yang berdatangkan ke makam juga mendo’a kan orang tua atau sanak saudara yang telah mendahuli, biasanya berbekal buku yasin yang diperoleh dari acara 100 hari kematian.

Dulu saya sering ikut paman untuk melakukan nyekar, namun sudah beberapa tahun terakhir ini saya sudah tidak dapat ikut sebab setiap awal ramadhan pasti di perantauan atau kalau pas akhir ramadhan menjelang idul fitri ternyata paman gak ke makam. Datang sendiri ? maaf, saya tidak hafal di mana letak makam kakek saya dari jalur ibu dan saudara – saudara yang lain. Sehingga jika tidak bersama sanak saudara pasti akan salah makam orang lain.

Dua tahun lalu saya tidak ikut nyekar, namun hanya bersepeda keliling kampung sekitar rumah tempat tinggal saya. hampir semua makan yang saya lewati tidak ada yang sepi, semua penuh dengan pengunjung, dan hal ini adalah rezeki bagi para pedangan bunga dadakan. Biasanya harga perbungkus bunga sekitar Rp 2500 – Rp.3000.

Ada pengalaman menarik yang menurut saya tidak biasa. Sebab memang baru itu saya menemui kejadian tersebut. Ada dua sepasang suami istri pergi ke makam (mungkin) orang tuanya, membawa rantang yang entah berisi apa. Saya hanya melihat dari jauh, sebab ketika itu saya sedang berada di depan makam kakek saya. Saya hanya melihat dari kejauhan apa yang akan mereka lakukan dengan rantang yang dibawa ke makam. Apakah mereka akan makan bersama ? kan belum waktunya buka. Sesaat kemudian saya melihat ibu itu menuangkan isi rantang itu ke makam. Oh, air yang wangi itu mungkin, pikir saya.

Setelah saya selasai di makam kakek saya, saya sempatkan untuk melihat tempat yang tadi dikunjungi sepasang suami istri tadi. Saya masih penasaran dengan apa yang ada di dalam rantang tadi. Sebab hal itu tidak biasa, biasanya orang datang hanya dengan membawa sebungkus bunga. Begitu saya sampai di makam yang dikunjungi pasangan tersebut, ternyata yang mereka adalah soto (mungkin) kesenangan orang yang di dalam makam. Begitu cintanya kedua orang tadi sampai – sampai meskipun sudah meninggal masih dibawakan soto.

Ah.. namun sayangnya sampai hari ini saya belum pernah menemukan anak muda seusia saya melakukan nyekar dan kemudian mendo’a kan di makam sanak saudaranya. Mungkin mereka sudah mendo’a kan dari rumah dan khusus di setiap akhir dzikir setelah sholat. Dan semoga bukan karena mereka sudah tidak ingat dengan sanak saudara yang sudah mendahului atau orang tua nya yang telah tiada.

Tahun – Tahun Buta

Saya jadi teringat beberapa bulan lalu saya menghadiri kajian islam ahad pagi di Islamic Center Gontor Nganjuk. Saat sesi Tanya jawab, entah dari mana saya lupa kemudian sang ustadz membeberkan tokoh-tokoh Islam liberal. Saya sedikit tercengang dengan salah satu nama yang diseutkan. Sebab beliau adalah salah satu tokoh islam yang di hormati negeri ini, memimpin para ‘ulama yang tergabung di Majelis Ulama Indonesia. Kemudian ustadz tersebut meminta jamaah untuk melihat dari link yang dishare di group facebook jamaah pengajian itu. Sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima, memang jika ada salah ucap perlu diklarifasi dan itu sudah pernah disampaikan kepada beliau.
Sudah menjadi pengetahuan kita bersama, bahwa info yang dimuat di media terkadang asal penggal dari pembicaraan atau resume menurut persepsinya sendiri tanpa klarifikasi hal tersebut. Bayangkan saya, misal dalam sebuah seminar dua jam, berapa kalimat atau baris yang masuk dalam tulisan media. Sehingga akan sangat mungkin terjadi pemotongan yang asal menguntungkan dan menjual. Disamping itu, para penyebar info pun dengan semangat “menyebarkan info baru yang sensasional” apa lagi tokoh besar akan berlipat-lipat semangatnya. “Orang-orang harus tau info ini, tokoh ini ternyata anggota Islam Liberal,” mungkin begitu kata hatinya. Namun sekali lagi, tanpa pernah konfirmasi kepada orang yang bersangkutan.
Judul diatas adalah tema Kenduri Cinta (KC) bulan Juli lalu, saya tertarik dengan tema tersebut mengingat hari – hari ini kita dibuat buta dari kebenaran yang terjadi dari media – media yang ada. Pembawuran kebenaran itu kemudian menjadikan sampah informasi yang tidak terkendali. Hal tersebut diperparah dengan semakin cepat berkembangnya dunia informasi, secara langsung berbanding lurus dengan semakin cepatnya arus informasi yang masuk ke telinga kita. Informasi masuk ke Hape dan tab hampir tiap detik, dan dengan tinggal klik share semua informasi bisa kita sebar ke public dunia maya. Entah informasi itu sampah atau emas, pun tidak jelas. Dan kemudian kita jadikan pembicaraan dan semakin lama-semakin membawur tanpa kejelasan kebenarn informasi tersebut.
Salah satu dampakanya adalah tidak adanya tanggung jawab dari para penyebar informasi, sehingga saling menghakimi antar para pro dan kontra. Kita seoalah belum atau tidak bisa lagi menerapkan Qs. Al-hujjurat ayat ke 6;
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”
Ayat di atas memberikan peringatan kepada kita agar mengklarifikasi semua berita sebelum kita cerma melihat dari sumber – sumber informasinya, sebab hal itu merupakan adab dalam islam. Sehingga kita tidak mudah terpancing propaganda isu – isu yang masih samar – samar kebenarannya. Sebab ayat di atas turun setelah terjadi peristiwa kebohongan penarik zakat yang mengabarkan bahwa suatu kaum membangkang untuk mengambil zakat. Padahal sudah disiapkan pasukan untuk menyerang kaum tersebut, sebelum akhirnya salah seorang diutus oleh kaum tersebut menanyakan kenapa belum diambil zakat yang sudah disiapkan. Bayangkan jika hal itu terjadi, pertumpahan darah akan terjadi atas sesame muslim.
Secara garis besar kita bisa membagi informasi dari tiga sumber yang kemudian kita sikapi tentang informasi tersebut.
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.
Namun pada hari ini kita juga sudah bingung, mana yang menjadi golongan pertama yang informasinya harus diterima, mana golongan dua dan tiga pun sudah tidak jelas lagi. Semua orang dengan klasifikasi manapun dapat menyebarkan informasi sesuka hatinya dan semampu tangannya. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah menahan agar tidak mudah terpancing untuk mengklik share dan like setiap informasi yang kita masih belum jelas kebenarannya. Sebab hal itu pun akan membuat senang orang yang pertama meniup informasi tersebut, setiap detik pundi rupiahnya bertambah dengan semakin banyak share yang kita lakukan.
Kita bisa belajar dari Rasulullah SAW tentang bagaimana menyikapi informasi yang masih simpang siur kebenarnnya. Sejarah mencatat ada Haditsul ifki atau berita bohong yang menimpa istri tercinta Nabi SAW, Aisyah ra. Semua orang dijalan-jalan membicangkan isu tersebut karena terjado pada tokoh umat islam, sangat menjual informasi bohong tersebut untuk diecer di jalan-jalan dan warung-warung. Rasulullah yang juga mendapat wahyu dan tidak dapat men-counter info tersebut harus bersabar hingga memulangkan Aisyah ke rumah Abu Bakar, bapaknya. Rasulullah kemudian berdiskusi dengan para sahabat mengenai informasi tersebut, sedang di luar sana sudah sangat massif informasi itu beredar. Rasulullah bersabar menunggu hingga dapat kebenaran berita tersebut, tidak terpancing untuk dengan gegabah meng-counter informasi tersebut dengan otoritas kenabiannya.
Bersabar dan menunggu kebenarnnya dengan tetap mencoba mencari yang benar adalah point yang rasul ajarkan. Sehingga kita harus menerapkan hadits berkata yang baik atau diam saja. Sebab dengan share dan like informasi yang tidak benar tentang saudara muslim kita juga merupakan bagian dari memakan bangkai saudara sendiri atau ghibah. Sungguh allah sudah memperingatkan dengan keras hal tersebut, bahkan Rasulullah mengaitkan keimanan seseorang dengan keamanan saudara/ tetangga dari lisan dan perbuatan kita.
Berkata Baik atau Diamlah.
Dan mari kita senantiasa melantunkan do’a yang sangat agung dalam menghadapi sampah informasi yang samakin hari semakin liar.
اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimiin.
Artinya : Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya

Rabbi adkhilni mudkhala sidqin wa akhrijni mukhraja sidqin waj’alli min ladunka sulthanan nasiiran, wa qul ja alhaqqu wa zahaqal bathil innal bathila kana zahuqan (Qs. Al Isra’ ; 81)
Artinya : Ya Allah, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah(pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Waullahu ‘alam

Catatan Lebaran

Maafkan Apanya?

Salah satu tradisi yang ada di masyarakat sekitar saya dan saya pun melakukannya ketika hari raya lebaran adalah tradisi berkunjung-kunjung ke rumah tetangga, sanak saudara dan handai tolan serta kawan-kawan. Tujuan saling berkunjung adalah meminta maaf dan harapannya saling memaafkan apabila ada kesalahan yang disengaja atau tidak sengaja. Alasannya sebab manusia adalah tempat salah. Namun hampir setiap kali lebaran, selalu ada pertanyaan tentang kehambaran rasa silaturrahmi itu.

Maafkan apanya?

Bayangkan saja, anda setiap hari hidup di tanah rantau yang tidak pernah berinteraksi dengan tetangga kanan-kiri rumah di kampung, sebab anda hanya pulang ketika lebaran. Interaksi anda hanya setiap kali lebaran dan tidak pernah ada yang lain. Terus anda bersilaturrahim ke rumah tetangga untuk meminta maaf jika ada kesalahan. Apanya yang mau dimaafkan? Lha wong interaksi sosial aja hanya waktu itu, jadi tetangga juga hanya pas lebaran di kampung. Kesempatan berbuat salah nyaris nol kepada tetangga karena kita sudah bukan tetangga setelah lebaran yang hanya bebera hari. Kita terlepas dari kewajiban bertetangga, terlepas dari peringatan nabi yang menyatakan tidak beriman seseorang kalau tetangganya tidak aman darinya. Lha terus apanya yang harus di maafkan?. Satu-satunya yang mungkin salah karena kita hanya berinteraksi hanya pada saat lebaran dan tidak pernah selain itu. kita tidak menyambung yang hampir putus.

Hal diatas sama juga dengan ketika saya diajak berkunjung kepada saudara yang bahkan saya tidak tahu namanya dan sedikit hafal wajahnya. Saudara jauh dari mbah-mbah dahulu. Lagi-lagi sangat klise, bertemu hanya saat lebaran saja kemudian meminta maaf. Ya, sekali lagi mungkin kesalahan kita adalah tidak senantiasa menyambung silaturrahim.

Dan menurut saya yang harus dan bahkan wajib adalah kita meminta maaf pada bill gates, si empunya Microsoft dan windows yang terinstall di laptop saya dan mungkin anda. Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada anda, “apakah Microsoft yang terinstall di laptop kita itu asli dan kita beli kepada bill gates? Apakah iya windows kita asli dan bukan bajakan hasil crack?”. Silahkan semua menggeleng serempak mirip orang salam penutup shalat.

Nah.. jelaskan. Berapa dollar yang kita ambil secara batil dari bill gates, meskipun dia bukan seorang muslim. Meskipun bukan seorang muslimkan bukan berarti boleh kita ambil haknya secara semena-mena kan ?. Nah lho.. kalau begini harus bagaimana?, maaf saya belum tanyakan ke ustadz soal itu. belum lagi dengan software-software bajakan lain yang mungkin kita dapat dari hasil membajak dan kita gunakan untuk mencari uang. Halal gak ya hasilnya ?. ahh… panjang urusannya soal ini. Belum lagi kalau nanti kalau di Mahkamah Maha Agung pengadilan akhirat Bill Gates melakukan banding kepada Gusti Allah. Apa ya terus kita yang sudah di depan pintu surga harus digantol sama malaikat malik untuk menerima banding dari Bill Gates yang menuntut keadilan kepada Gusti Allah karena telah di bajak softwarenya oleh seorang muslim?. Ahh… tidaaaaaakkk.. tahu saya. besok kita tanyakkan ke ustadz.

Haaaaaaaaaaaaahhh.. Mbah Bill Gates, mumpung masih lebaran, maafkan saya yang telah menggunakan software bajakan dari perusahaan anda. Saya belum mampu beli meskipun katanya murah.. mumpung masih lebaran mbah, anggap saja ini angpao lebaran buat saya. Maafkan saya yaa mbah… Dan si empunya Mike 21, saya juga minta maaf telah menggunakan software secara illegal, dan mohon di ikhlaskan ya.. Maaf.. Maaf.. dan si empunya software yang softwarenya saya gunakan secara illegal, saya mohon maaf.. saya do’a kan anda semakin kaya dan mendapat Hidayah dari Allah SWT. Biar anda kaya juga di Akhirat.

Hah, semakin tidak jelas tulisan ini. kita akhir saja. gak usah pakai salam. Nanti kalian harus mengkomentari artikel ini dengan ucapan salam.

Catatan Akhir Ramadhan

Riak Zakat, Infaq dan Shodaqoh kita

Alhamdulillah, kesadaran masyarakat atas kewajiban mereka terhadap harta yang diterima sudah sangat bagus. Bisa kita lihat dengan semakin menjamurnya Lembaga – lembaga  Amil Zakat, Infaq, shodaqoh dan juga Wakaf. Hampir semua organisasi masyarakat mempunyai LAZ, Nahdhotul “Ulama dengan LAZNU, Muhammadiyah dengan LAZIZMU dan sebagainya. Belum lagi milik organisasi non pemerintahan dan yayasan seperti Yayasan Nurul Hayat (NH), Lembaga Manajemen Infaq (LMI), Yayasan Dana Sosial Al – Falah (YDSF), Rumah Zakat dan sebagainya. Pemerintah juga mempunyai Lembaga besar, Badan Amil Zakat (BAZ) baik ditingkat pusat maupun provinsi. Dari semua lembaga yang telah disebutkan tadi, tidak ada yang tidak mempunyai donator tetap dan orang yang menyalurkan ZIS (Zakat, Infaq, Shodaqoh) sudah mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu orang melalui lembaga tersebut. Apalagi sekarang pemerintah juga semakin memudahkan  dengan adanya peraturan bahwa dengan mengeluarkan zakat, pajak penghasilan dapat berkurang.

Memang, banyak manfaat dengan adanyanya lembaga – lembaga yang konsen terhadap pengelolaan ZIS, mulai mendata muzzaki, mustaqiq, mengingatkan waktunya zakat, dan menyalurkan kepada yang berhak. Salah satu manfaat dari penyaluran zakat melalui amil adalah tersturkturnya data para muzzaki dan mustaqiq, juga dapat menghindari hutang budi antara pemberi dan penerima (meskipun seharusnya tidak demikian. Baca tulisan ini). Banyak pendapat dari para ulama dan penggiat zakat agar penyaluran zakat, infaq dan shodaqoh lebih baik melalui amil dan bukan perorangan. Melihat banyaknya manfaat jika penyaluran melalui amil bukan perorangan apalagi sampai menimbulkan korban.

Saya sangat sepakat dengan para ulama yang menyerukan agar umat menyalurkan zakat melalui amil zakat yang amanah. Namun kadang saya berfikir ulang, jika amil zakat itu jauh dari tempat tinggal saya. apakah nanti penyaluran zakat, infaq, shodaqoh itu sampai pada tetangga saya?. mengingat kadang tetangga saya jika diukur dari lingkungan sekitar perlu mendapat bantuan, sedangakan menurut lembaga amil zakat belum masuk kriteria yang berhak mendapatkannya.

Mengapa kita perlu berfikir tentang tentang hal diatas? sebab kita juga harus berfikir tentang kemanfaatan diri kita terhadap lingkungan sekitar. Kalau anda kaya dan kemudian menyalurkan ZIS anda melalui amil, kebetulan penyaluran ZIS anda sedikit atau tidak sama sekali menyentuh orang di kanan – kiri anda, tentu hal itu akan menjadi bahan omongan orang sekitar. Meskipun secara kewajiban kita sudah selesai karena sudah menyalurkan melalui amil. Namun, dari sisi kemanfaatan rasanya kita kurang bermanfaat kepada masyarakat sekitar. Jika orang di sekitar anda adalah orang yang mampu, lihat agak keluar lingkungan anda. Nabi saja menyarankan kalau mengundang acara makan – makan itu 40 rumah ke kanan dan kiri rumah kita, begitu pula jika depan atau belakang rumah kita. Artinya itulah yang menjadi tetangga kita.

Sehingga, jika memang anda ingin memberikan ZIS melalui Amil, saya sarankan untuk sekalian memberikan list atau daftar nama penerima yang itu adalah orang – orang sekitar anda. Hal ini untuk menghindari tidak sampainya ZIS yang anda keluarkan kepada lingkungan anda. Sebab anda hidup dilingkungan yang harusnya anda bermanfaat bagi orang di sekitar anda. Bagaimana mungkin kita tidur dalam rasa kenyang, bila tetangga anda tidak bisa tidur atau tidur karena sangat kelaparan ?

Ibarat kita melempar batu kedalam kola, akan terjadi riak gelombang dari tempat jatuh batu itu hingga akhirnya menyebar sampai seluruh kolam. Maka, kemanfaatan kita baik dari harta (ZIS) atau yang lain seharusnya mirip dengan riak – riak gelombang tadi. Sekitar kita sampai seluruh kolam.

Catatan Akhir Ramadhan

Tak perlu berterimakasih untuk sebuah kewajiban

Pekerjaan tambahan saya setiap akhir ramadhan, terutama saat tanggal 28 – 29 ramadhan adalah menjadi kurir amplop berisikan titipan sejumlah amplop untuk diantarkan kepada orang yang tertera di amplop. Yaaa.. amplop berisi sejumlah uang yang diakad kan sebagai zakat mal yang dikalkulasi dalam setahun dan dibagikan tiap ramadhan, juga infaq dan shodaqoh. Tugas saya adalah mengantarkan uang tersebut dari rumah ke rumah dan tanpa menyebut dari siapa kalau tidak ditanya. Kebetulan sekitar tempat tinggal saya tahun ini tidak ada panitia pengumpulan zakat, apalagi LAZ yang memang bekerja focus menangani masalah ZISWAF. Tulisan ini hanyalah sedikit pengalaman dari hasil mengetuk pintu satu ke pintu yang lain.

Pasti kita sudah dapat menebak, bagaimana ekspresi orang yang mendapat kiriman amplop dari muzzaki tersebut. Ada yang wajah berbinar berucap Alhamdulillah dan berulang kali kata terimakasih. Memang tidak salah sebenarnya dan memang seharusnya bersyukur kepada Allah dengan ucapan Alhamdulillah. Namun untuk terimakasih?, yah, mungkin hanya untuk kepantasan saja mereka yang menerima amplop itu berucap terimakasih, orang jawa mengistilahkan abang – abange lambe. Kalaupun tidak berucap terimakasih pun wajar dan orang yang memberi tidak perlu kesal dengan sikap itu. Hmm, mungkin kebanyakan orang akan berfikir mengapa tidak perlu mengucapkan terimakasih.

Mungkin kita perlu mengingat pesan kanjeng Nabi SAW tentang setiap rezeki yang kita terima, “Bahwa disetiap rezeki yang kita terima ada hak orang lain”. Perlu saya tegaskan HAK ORANG LAIN. Hak itu jika berupa zakat sudah diatur siapa saja yang menjadi penerima HAK tersebut dalam 8 golongan, sedangkan untuk infaq dan shodaqoh lebih fleksibel. Sebab itu sudah menjadi HAK orang lain, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita wajib memberikan HAK itu. Jika kita tidak memberikannya, maka kita termasuk memakan HAK orang lain dan anda lebih paham ancaman dari Nabi bagi para pemakan hak saudaranya.

Sehingga sah – sah saja jika orang yang menerima zakat, infaq atau shodaqoh  tidak mengucapkan berterimakasih orang yang memberik Zakat, infaq atau shodaqoh.. lha wong itu sudah hak mereka yang memang harus diterima. Mungkin itulah salah satu manfaat adanya amil zakat, orang yang memberi dan menerima tidak perlu langsung bertemu sehingga jika tidak mengucapkan terimakasih kepada pemberi tidak terjadi kemarahan dan sebagainya. Meskipun saya juga kadang masih berfikir ulang jika pada penyalurannya tidak sampai pada orang yang di sekitar tempat tinggal saya. (lebih lengkapnya baca tulisan ini)

Padahal kalau kita merenung lebih jauh, keberadaan 8 golongan penerima zakat adalah keuntungan bagi para muzzaki, yang tujuannya untuk menyucikan harta – hartanya. Tapi jangan anda berfikir kalau koruptor akan suci harta hasil korupsi dengan berzakat, beda hitungan itu. kembali lagi, kalau kita merenung lebih jauh, coba bayangkan kalau para 8 golongan yang berhak mendapatkan zakat itu menolak. Mau kita kasihkan kepada siapa ? atau sudah tidak ada yang mau menerima zakat, bagaimana menyucikan harta kita?

Mungkin seharusnya orang yang mengucapkan berterimakasih adalah para muzzaki, bukan mustaqiq. Dan kalau hanya mengeluarkan zakat atau infaq dan shodaqoh sekedarnya saja, orang harusnya tidak perlu jumawa, lha woang itu sudah kewajiban. Kewajiban itu hanya standar rendah saja. kebacut kalau standar bawah tidak sampai. Maka jika anda mendapati orang tidak mengucapkan terimakasih kepada anda atas pemberian zakat, infaq atau shodaqoh, anda tidak perlu marah dan andalah seharusnya yang berterima kasih kepada mereka. Sebab mereka telah mau membatu anda membersihkan harta dan jiwa anda.

Menjaga (definisi) Islam Nusantara

Islam Nusantara yang mana?

Setelah memilih hanya menjadi penonton sambil mantengi setiap up date info perkembangannya, saya akhirnya ingin menuliskan apa yang telah lama menjadi kegaduhan di dalam pikiran yang menyebabkan tangan ini gatal untuk segera menggaruk – garuk ritmiks keyboard. Istilah “Islam Nusantara” yang muncul dan menjadi sentral tema Muktamar Nahdhotul ‘Ulama ke 33 tak pelak menjadi bahan omongan masyarakat jagad dunia maya. Mudahnya akses informasi di zaman kecanggihan teknologi informasi seperti saat ini, dalam setiap detiknya, mungkin ada ratusan atau bahkan ribuan orang meng-klik share dan like artikel – artikel yang bertemakan Islam Nusantara baik dari kubu Pro-Islam Nusantara maupun Kontra-Islam Nusantara. Entah benar atau tidak informasi yang mereka bagikan, kredo media hari ini adalah Media sama dengan komoditas dagang. Sehingga judul tulisan hanya sensational yang menjual dan bukan bicara kebenaran. Dan inilah sayangkan, kemudian orang – orang yang hanya dapat informasi dari media (lebih buruk lagi tanpa membandingkan dengan media yang lain) semakin brutal saling menghabisi antara yang pro dan kontra dengan gagasan Islam Nusantara tanpa mendudukan secara jelas Islam Nusantara. selain itu, tiba – tiba muncul website resmi Islam Nusantara, Islam Nusantara 2 dan Radio Islam Nusantara. Perang opini dan gagasan tentang Islam Nusantara akhirnya hanya bersifat dugaan – dugaan, tanpa konfirmasi kepada penggagas munculnya istilah itu. Namun saya juga amat sangat apresiasi sekali (he..he.. gak efektif banget) dengan pihak yang kemudian memberikan peringatan agar Islam Nusantara tidak dipahami secara liar yang akibatnya malah bukan Islam  lagi. Selain juga peringatan agar istilah Islam Nusantara tidak mengangkut penumpang gelap orang – orang Jaringan Islam liberal yang selalu berteriak keras Islam adalah hasil budaya bukan wahyu.

Beberapa pendapat tentang Islam Nusantara yang berkembang kemudian sangat beragam, sehingga yang saya tulisakan disini adalah apa yang menjadi interprestasi saya dari tulisan – tulisan media yang liar berkembang dari tokoh – tokoh yang mereka wawancarai. Agar berimbang saya tuliskan dari pihak yang pro dan kontra Islam Nusantara. Pertama, Islam Nusantara adalah Islam yang mahzab atau ajaran baru dalam islam, sebab Islam Nusantara adalah Islam yang cara penyebaran sebagaimana wali songo menyebarkan islam dengan melakukan islamisasi budaya secara kultural dan tidak menggunakan kekerasan hingga pertumpahan darah. (sumber Republika, Youtube)

Kedua adalah Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global. (Sumber Prof. Azyumardi Azra)

Ketiga, Islam Nusantara adalah salah dalam pengistilahan, sebab jika ada Islam Nusantara maka berarti ada Islam Arab, Islam Barat dan lain sebagainya. Islam adalah agama wahyu dan bukan dari produk budaya,sehingga konsep dan peradabannya sesuai dengan semua tempat dan sepanjang zaman. Masalah bagaimana penerapannya menyesuaikan daerahnya. Jika Islam masuk ke suatu daerah atau peradaban , maka islam melakukan proses islamisasi, bukan melebur menghilangkan jati diri. (Sumber Dr. Hamid Fahmy Zarkasy)

Belum ada Kesepepakatan Hingga detik ini, belum ada kesepatan dari semua pihak tentang definisi tentang apa itu Islam Nusantara. Masalah ini lebih meruncing lagi sebab ada indikasi bahwa gagasan Islam Nusantara mengangkut Jaringan Islam Liberal, mengingat Jaringan Islam Liberal yang sudah tidak laku lagi. Sehingga mereka mencoba memakai baju baru bernama Islam Nusantara, seperti yang dikhawatirkan berbagai banyak pihak yang konsen terhadap pemikiran “nakal” yang sering di gaungkan Jaringan Islam Liberal (sekarang tanpa kata “Jaringan”. lihat websitenya)

Namun, sekali lagi, dengan tidak adanya kesepatan dari definisi Islam Nusantara ini akan mengakibatkan perdebatan panjang yang tidak mempunyai titik temu, sehingga opini liar semakin tidak karuan dijagad media sosial. Meskipun memang tidak perlu kita mempermasalahkan definisi Islam Nusantara jika memang yang berada di dalamnya adalah para aktivis Jaringan Islam Liberal, sebab sama saja, Cuma ganti baju buat mengelabui ummat dari kebenaran. Jika kemudian Pengurus Besar Nahdhotul ‘Ulama mengambil Islam Nusantara sebagai Tema Muktamar ke 33, akan lebih baik bagi ummat untuk duduk bersama meng-clear-kan definisi Islam Nusantara agar tidak menjadi gagasan liar yang malah membuat membingungkan masyarakat akar rumput. Sudah banyak kemudian vonis – vonis mengerikan yang keluar di media, seperti vonis liberal, sesat, kafir dan sebagainya. Padahal (mungkin) belum ada saling klarifikasi dari pihak yang menuduh dan yang tertuduh, hanya kata media ini dan sumber itu tanpa proses tabayun. Bukankah ini sebuah perkara besar dan penting dalam islam?, jika tuduhan itu meleset, yang ada adalah balik kepada orang yang mengucapkan tuduhan. Sekali lagi, media sangat kompor sekali sehingga masyarakat awam yang hanya sekedar like dan kemudian share membumbi agar lebih pedas dan gurih disantap masyarakat dunia maya.

Menjaga Definisi Islam Nusantara

Ditengah belum jelas dan sepakatnya soal definisi dari Islam Nusantara dari tokoh yang pro dan kontra terhadap gagasan tersebut, maka yang perlu kita lakukan adalah menjaga agar kemudian definisi-definisi yang berkembang di masyarakat akar rumput tidak melanggar batas-batas koridor islam yang nantinya malah merusak dan membunuh islam sendiri. Sehingga pagar itu harus diperjelas, dimana nantinya definisi Islam Nusantara itu akan melenceng bila Islam Nusantara didefinisikan seperti bla..bla.. dan gagasan Islam Nusantara bisa diterima jika didefinisikan sebagai ini dan itu. Hal ini merupakan langkah antisipasi agar masyarakat akar rumput tidak salah melangkah dan mengambil pendapat ditengah tiupan sampah-sampah dari kalangan Jaringan Islam Liberal yang mencoba mengambil momentum.

Beberapa catatan penting tentang definisi Islam Nusantara yang perlu kita perhatikan adalah sebagi berikut; Pertama, jika Islam Nusantara bukan dianggap sebagai ajaran Islam gaya baru yang berbeda dengan Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW maka hal itu dapat kita ambil. Definisi Islam disini bukan islam sebagai addiin yaitu agama itu sendiri, atau islam dimaknai sebagai peradaban atau Islamic civilization. Sehingga jika Islam Nusantara dikatan sebagai Islam distingtif (unik) yang teralkulturasi dengan budaya-budaya nusantara, maka akan berbeda juga antara Islam Nusantara Aceh dangan Islam Nusantara Jawa, Kalimantan dan Papua. Padahal kita ketahui bahwa ajaran – ajaran islam yang bersumber dari Al-Qur’an adalah bersifat universal dan Nabi diutus sebagai uswatun hasanah pun juga bersifat universal.Namun jika Islam Nusantara yang dimaksud adalah Peradaban Islam Nusantara, mungkin bisa kita terima. Sebab ciri Peradaban Islam Nusantara itu berbeda dengan Peradaban Islam di negeri – negeri lain.

Kedua, jika yang dimaksud dengan Islam Nusantara adalah Islam sebagaimana cara penyebaran islam seperti yang dilakukan oleh wali songo dengan cara islamisasi budaya secara damai tanpa pertumpahan darah. Substansi Islamnya masih sama dengan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang disebarkan di Arab, namun dengan cara penyampain yang berbeda. Jika yang dimaksud Islam Nusantara adalah hal tersebut, maka terlalu besar dan luas. Sebab yang berbeda adalah caranya, bukan substansial ajaran Islamnya. Dan kalau berbicara tentang cara penyampaian ini adalah hal furu’iyah dan memang sangat longgar sesuai daerah masing-masing. Sedangkan Islamnya adalah tetap Islam yang bersumber dari wahyu dan sabda Nabi.

Ketiga, Jika Islam Nusantara adalah gerakan Islam Anti Arab, maka hal itu sangat fatal. Sebab mau tidak mau, Nabi Muhammad diturunkan di Jazirah Arab dengan menggunakan bahasa arab. Maka jika kita menolak semua berbau arab, maka Islam Nusantara akan kehilangan Al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa arab. Atau Gerakan Islam Nusantara ini merupakan gerakan anti budaya arab, maka ini sangatlah lucu. Sebab berarti kita tidak bisa membedakan mana Islam dan mana budaya arab. Dan hal itu adalah kewajiban ulama menerangkan kepada ummat dan tidak perlu harus membawa nama Islam Nusantara.

Dari akhir tulisan ini, mungkin perlu saya garis ulang point-point penting dari wacana Islam Nusantara yang sedang liar berkembang di Indonesia ini.

Pertama, ditengah ketidak jelasan definisi dan makna dari Islam Nusantara yang sudah terlanjur menggelinding di masyarakat, maka akan lebih baik semua pihak untuk saling menahan diri untuk sekedar klik like dan share berbagai informasi, wacana dan opini tentang Islam Nusantara dan mengalihkan kepada tema-tema diskusi dan aksi yang lebih produktif, misal tentang pembangunan ekonomi ummat.

Kedua, Semua pihak yang memiliki gagasan terkait Islam Nusantara agar duduk bareng membincangkan masalah tersebut dan mengeluarkan kesepakatan bersama yang kemudian dapat menenangkan masyarakat yang sedang berperang tidak jelas dan tidak produktif sama sekali. Ketiga, jika memang definisi yang ada tentang Islam Nusantara seperti yang diuraikan pada point kedua seperti di atas, maka akan lebih baik istilah Islam Nusantara ditarik dari peredaran umum dari pada memancing polemic yang tidak ada berujung.

Waullahu’alam

Islamic Center Gontor

Slogan diatas masih saja tertulis, dengan cat at dan font huruf yang sama sejak enam tahun lalu saya mulai sering dan familiar untuk menginjakkan kaki disini. Sebuah Slogan yang membuat saya bergetar, slogan Ukhuwah di tengah kondisi umat islam yang tidak akur di akar rumput. “BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN”adalah semangat lembaga ini, Islamic Center Gontor. Ada hubungan dengan Pondok Gontor ? , ya, memang masih ada hubungannya. Lembaga ini adalah buah kerja keras alumni – alumni pondok gontor yang menyebar di seluruh Indonesia. Islamic Center bukan hanya ada di Nganjuk, di Kediri Juga ada.

Slogan “BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN”  bukan hanya omong kosong, isipan jempol belaka. Secara istiqomah lembaga ini mengelar kajian rutin Ahad pagi dengan pembicara yang bervariasi tiap pekannya dan dari semua harakah islam yang ada. Selain itu juga ada semacam kursus, mulai dari tentang Aqidah, Fiqh dll yang biasa di gelar tiap pekan sesuai jadwal. Seiring berkembangnya zaman, lembaga ini juga mengadakan umroh bareng dengan para jamaah Kajian Ahad Pagi. Gedung pengajian yang hanya menggunakan teras rumah ini tiap ahad pagi dipenuhi tidak kurang dari 60 Jamaah, mulai dari balita yang diajak orang tuanya hingga kakek – nenek.

Menarik sekali kalau kita cermati, jamaah pengajian disini di ajari bagaimana berukhuwah dan saling memahami dengan lintas pemikiran dalam harakah islam secara tidak langsung. Jamaah diajak agar lebih berdewasa dalam menyikapi perbedaan dalam hal cabang di tengah masyarakat yang kadang – kadang sering meruncing pada saling olok antar jamaah islam, terutama di masyarakat akar rumput. Oleh sebab itu, slogan “UNTUK SEMUA GOLONGAN” adalah dalam rangka mewadahi semua golongan dengan cara menghadirkan pembicara dalam kajian ahad pagi dengan latarbelakang harakah – harakah islam yang mungkin selama ini sering kita lihat bersebrangan. NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, Salafi dan tarbiyah secara bergiliran bergantian mengisi di tiap pekannya. Meski pun kadang juga tidak seperti itu.

Saya jadi membayangkan, kalau saja lembaga – lembaga seperti ini banyak bermunculan di negeri ini, menyentuh sampai pada masyarakat akar rumput. Rasanya bertengakaran dalam hal – hal cabang antar golongan islam bisa teratasi dan umat akan berfikir yang lebih maju lagi dari pada membicarakan hal – hal cabang. Selain itu, jika lembaga – lembaga seperti ini juga mampu menyentuh kalangan muda, tentu generasi tunas bangsa akan terbentengi dari pusaran globalisasi yang semakin hedonis.

“BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN”

Photo-0019